RSS

Hakim PN Semarang Tak Perhatikan Yurisprudensi Hukum

02 May

SEKARANG siapa yang tak kenal dengan Natasha Skin Care.  Usaha jasa pelayanan salon kecantikan ini terus mengalami perkembangan yang cukup pesat. Pada tahun 2008 saja, Natasha telah memiliki 42 cabang di 26 kota di Indonesia. Fantantis !

Sebagai salon kecantikan papan atas yang selalu dipenuhi oleh pelanggan, tentunya pundi-pundi yang dihasilkan juga tidak kecil. Jadi tidak aneh kalau ada orang seperti  Then Gek Tjoe alias Andre ingin kecipratan dengan cara yang tak halal.

Then Gek Tjoe alias Andre tanpa harus berjuang. Dia hanya cukup mendompleng ketenaran Natasha untuk diakui sebagai miliknya. Padahal nama besar Natasha bukan berarti turun dari langit, tapi berkat kerja keras seorang dr Fredi Setyawan.

Bagi dr Fredi Setiawan, membangun Natasha sampai sebesar sekarang tidak mudah. Dia harus bersusah payah. Ia merintis usaha itu dari kecil sejak tahun 1999 dari kota Madiun. Nama Natasha sendiri diambil dari nama putrinnya sendiri Natasha Heidi Setyawan.

Tahun 2002, terutama dari Jogjakarta, Natasha kemudian semakin berkembang. Karena dirinya merasa perlu perlindungan hukum atas usaha merek dagangnya, maka dr Fredi pun mendaftarkan seni logo Natasha ke Dirjen Hak Kekayaaan Intelektual. Saat itu ia mendapatkan Surat Pendaftaran Ciptaan No. 024379/2004 seni buatannya tanggal 9 Maret 2004.

Namun tanpa dinyana, tiba-tiba pada tahun 2007, ada sosok orang yang bernama  Then Gek Tjoe  mendaftarkan seni Logo Natasha pada tanggal 13 Agustus 2007 dan kemudian juga mendapatakan Surat Pendaftaran Ciptaan No. 034517/2007.

Melihat kenyataan itu, dr Fredi Setiuawan terkejut. Dia yang sudah susah payah membangun  Natasha kemudian  merasa haknya terlanggar. Ia kemudian mengajukan gugatan soal hak cipta ke Pengadilan Niaga PN Semarang untuk membatalkan pendaftaran hak cipta yang dilakukan Then Gek Tjoe.  Selain itu dr Fredi melalui kuasa hukum melaporkan  Then  Gek Tjoe ke kepolisian untuk kasus pemalsuan merek.

Gugatan dr Fredi ternyata dimenangkan oleh Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang dengan  putusan Nomor: 02/HAKI/C/ 2009/PN.NIAGA.Smg,  tanggal 27 Mei 2009. Saat itu Pengadilan Niaga PN Semarang menyatakan bahwa dr Fredi Setyawan  adalah  pencipta dan pemegang hak cipta yang sah atas seni Logo “Natasha” No. 024379/2004.

Keputusan PN Semarang itu juga sekaligus membatalkan seni Logo Natasha  yang didaftarkan oleh Then Gek Tjoe  dengan   No. 034517 tertanggal 13 Agustus 2007.

Nah disinilah muncul keheranan terhadap putusan sela majelis hakim PN Semarang. Pasalnya entah diduga majelis hakimnya ‘bermain-main’ dengan keadilan atau tidak mengetahui bahwa untuk kasus perdatanya sendiri justru MA telah mengeluarkan putusan yang menguatkan keputusan Pengadilan Niaga PN Semarang.

Keputusan MA tersebut dikeluarkan setelah  pada tanggal 23 Juni 2009,  Then Gek Tjoe, lewat permohonan kasasi banding lewat surat yang diterima panitera PN Semarang No.02/HaKI/C/2009/PN.Niaga.Smg.jo.No.03/HaKI/C/K/2009/PN.Niaga. Smg.

Hasilnya dalam surat keputusan MA no 698/Pdt.Sus/2009, salah satu amar putusannya, MA  pada 26 Oktober 2009 telah memutuskan bahwa bahwa merek logo Natasha adalah sah ciptaan dr Fredi Setyawan, serta memerintahkan Dirjen HKI untuk membatalkan merek dagang yang telah didaftarkan Then Gek Tjoe.

Orang Kuat

Kasus Natasha terus bergulir ke meja persidangan PN Semarang. Namun entah mengapa majelis hakim PN Semarang Edy Tyahjono, SH, Mhum, Fathurrochman SH. Tigor Manulang, SH membelokan kasus pidana umum itu ke Pengadilan Niaga.

Agaknya majelis hakim juga kurang memperhatikan yurisprudensi  hukum sebagaimana yang telah diputuskan PN Yogyakarta  pada Oktober 2010, dimana PN Yogya telah menjatuhkan hukuman pidana 9,5 bulan.

Tidak tahu apa yang mendasari majelis hakim dengan mudah membuat keputusan sela bahwa PN Semarang tidak memiliki wewenang menyidangkan kasus itu. Namun banyak yang menyebutkan bahwa tidak sedikit ‘orang ‘kuat’ yang membeking Then Gek Tjoe alias Andre.

Aroma yang tak sedap itu sempat tercium oleh  Ketua LSM Gerakan Anak Bangsa Anti Korupsi (GEBRAK), Bang Boy. Dia melihat para hamba penegak hukum itu terkesan berani bermain api.

Tanpa tedeng aling-aling lagi, Bang Boy langsung menuding bahwa Jamintel  Kejagung,  Edwin Pamimpin Situmorang telah mengintervensi kasus ini.

Tudingan itu bukan tanpa alasan. Sebab, sejak kasus itu mencuat kepermukaan, tidak sedikit laporan yang diterimanya tentang sepak terjang buruk Jamintel tersebut.

Ketika itu Bang Boy langsung melaporkan Jamintel ke Jamwas (Jaksa Agung Muda Pengawas) Kejagung dan ke Satgas Pemberantasan Mafia Hukum.

“Saat itu terdakwa Then Gek Tjoe alias Andre yang terlibat dalam kasus pemalsuan hak cipta produk Natasha Skin Care hanya dituntut enam bulan penjara oleh jaksa di PN Yogyakarta,”tegas Bang Boy.

Di persidangan, tutur pria bertubuh tambun ini, Then Gek Tjoe alias Andre didakwa pasal Pasal 72 ayat (1) subsider ayat (2) UU No 19 Tahun 2002 tentang hak cipta dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.

”Terdakwa yang sudah menjalani penahanan empat bulan, lantas dituntut enam bulan penjara. Ini sama saja dengan membebaskannya,” jelas pria yang dipanggil akrab Bang  Boy.

Kesan penegak hukum ‘main-main’ juga terasa ketika kasus ini disidangkan di PN Semarang,  pihak kejaksaan justru mengubah status tahan Then Gek Tjoe menjadi tahanan kota. Padahal pihak kepolisian justru melakukan langkah sigap dengan langsung menangkap Then Gek Tjoe.

Menanggapi adanya prilaku hakim yang diduga telah main mata dengan pihak terdakwa, juru bicara Komisi Yudisial (KY), Asep Rahmat mengatakan pengadilan di Indonesia memang masih butuh penyempurnaan dalam hal sistem, lembaga dan terutama di aparatnya.

“Terbukti perilaku hakim yang dilaporkan masyarakat ke KY, setiap bulannya sekitar 200-250 kasus. Itu berarti yang namanya perilaku hakim itu tetap menjadi masalah besar,” jelas Asep yang ditemui SR, di ruang kerjanya.

Sementara itu, pengamat masalah hak atas kekayaan intelektual (HKI) dan pengajar Fakultas Hukum Universitas (FH UI), Henny Marlyna mengatakan bahwa banyak hakim tak memahami  HKI. “Harusnya ada hakim yang spesialis menanganinya, sehingga mereka bisa fokus dan mendalami perkembangan yang ada diseputar HKI,”ujar Henny saat ditemui SR di Kampus UI Depok. Julius

 
Leave a comment

Posted by on May 2, 2011 in HUKUM DAN KRIMINAL

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: