RSS

Kasus Natasha Skin Care Di Persimpangan Jalan

21 Apr

HUKUM sudah seperti barang mainan. Bahkan tidak sedikit penegak hukum menjadikan hukum seperti barang dagangan yang ujung-ujungnya para pencari keadilanlah yang menjadi korban. Paling tidak inilah yang dirasakan oleh dr Fredi Setyawan, pemilik dan pengusaha salon kecantikan Natasha Skin Care.

Ada guratankekecewaan di wajah dr Fredi Setyawan ketika mengetahui bahwa majelis hakim Pengadilan Negeri  Semarang yang diketuai oleh hakim Edy Tyahjono dalam keputusan selanya memutuskan bahwa PN Semarang tidak memeliki wewenang untuk mengadili kasus Natasha  (kompetensi absolut).

Bak gayung bersambut, tak hanya jaksa penuntut umum, Sugeng SH saja yang langsung melakukan perlawanan menyatakan naik banding, namun kuasa hukum dr Fredi Setyawan, Ebenhazer Sitorus langsung angkat bicara.

“Apadasar majelis hakim memutuskan bahwa kasus Natasha bukan menjadi wewenang Pengadilan Negeri Semarang untuk menyidangkannya, tetapi malah menjadi kewenangan Pengadilan Niaga. Jadi keputusan majelis hakim itu sangat janggal,”papar Ebenhazer Sitorus.

Menurutnya, majelis hakim tidak mempertimbangkan 266 KUHP tentang pemalsuan identitas dalam akta otentik, juncto pasal 263 KUHP. Padahal pasal tersebutlah dasar pihak Kejaksaan Negeri Semarang mengajukan kasus ke persidangan.

“Ada apa dengan majelis hakim PN Semarang, sehingga dengan mudahnya mereka membelokan kasus pidana umum menjadi sengketa, sehingga kasus itu harus disidangkan di Pengadilan Niaga,”tegas Ebenhazer dengan dialeg Batak-nya yang kental.

Seperti diketahui, kasus pemalsuan produk kecantikan Natasha milik dr Fredy Setiawan memang  sempat berjalan alot. Bahkan kasus ini sempat pula ‘diambangkan’, oleh oknum-oknum yang bermain di belakangnya. Terutama adanya indikasi campur tangan Jamintel. Namun berkat kerja keras Mabes Polri, tanggal 4 Agustus 2010 lalu,  Kejaksaan Negeri Yogyakarta resmi menahan Then Gek Tjoe alias Andre alias Cuk.

Berdasarkan surat perintah Kepala Kejaksaan Negeri Yogyakarta nomor Pnnt 734/0.4.10/Ep.2/082010, tanggal 4 Agustus 2010, pria kelahiran 2 Desember 1975 ini dikenakan pasal berlapis, karena dugaan pemalsuan produk Natasha.

Dalam berita acara yang ditanda-tangani oleh Jaksa Muda bidang Penuntutan Umum, M Rizal Sumadiputra SH disebutkan, bahwa terhitung tanggal 4 sampai 23 Agustus 2010, tersangka ditahan, di Rutan Yogyakarta selama 20 hari.

Penahanan yang dilakukan terhadap tersangka Then Gek Tjoe alias Andre alias Cuk yang berdomisili di Puri Eksekutif 1A/108 Kelurahan Tawangsari, Kecamatan Semarang Barat itu, karena dikhawatirkan dia melarikan diri atau merusak dan menghilangkan barang bukti serta mengulangi tindak pidana.

Namun dalam perjalananya, ternyata semangat Mabes Polri dalam memerangi tindak kejahatan tidak didukung oleh Kajari Semarang, Ranu Mohardja. Saat itu, lagi-lagi Ebenhazer  Sitorus menyebutkan bahwa Kajari Semarang itu telah melukai rasa keadilan rakyat.

Boleh jadi Ebenhazer  Sitorus geregetan melihat ulah Kajari Semarang, Ranu Mohardja. Betapa tidak, upaya pihak Mabes Polri melimpahkan tahap dua kasus itu ke Kejaksaan Negeri Semarang, juga ditelikung oleh pihak Kejaksaan Negeri Semarang, yaitu dengan mengalihkan status tahanan dari Rumah Tahanan (Rutan) menjadi tahanan kota tanpa ijin dari Kejagung sesuai dengan Surat Edaran (SE) No 001A/JA/02/2006 yang diganti SE No 002/A/JA/01/2010.

Dalam surat edaran itu  disebutkan bahwa penangguhan dan pengalihan tahanan untuk kasus tertentu dan menarik perhatian masyarakat harus seijin Jaksa Agung. “ Dalam kasus ini, apa dasar hukumnya Kejari Semarang melakukan pengalihan penahanan. Ini pasti ada sesuatu yang tidak beres, sehingga saya mengambil langkah melaporkan Kejari Semarang, Ranu Mihardja ke Jamwas,”jelasnya lagi.

Tersandung Lagi

Kasus pemalsuan produk Natasha tersebut sudah berlangsung lama. Tapi jalannya selalu tersendat-sendat. Hal ini bisa dicermati ketika pemilik prodak Natasha, dr Fredy Setiawan melaporkan kasus itu ke Polda Yogyakarta. Bahkan sempat ditangani oleh Mabes Polri. Tapi karena ada dugaan oknum jaksa yang melakukan intervensi, kasus urung di P 21.

Saratnya intervensi dari oknum-oknum tertentu kini semakin nyata. Hal ini terlihat jelas dari keputusan sela yang menyebutkan bahwa Pengadilan Negeri Semarang tak memiliki wewenang untuk mengadili kasus itu.

Mendengar putusan majelis hakim tersebut, perjalanan dr Fredy Setiawan untuk mencari rasa keadilan kembali tersandung. Padahal sebelumnya, tersangka Then Gek Tjoe alias Andre alias Cuk yang juga pemilik PT Pesona Mutiara sempat mendapat ‘kado’ tahanan kota dari Kejari Semarang.

Memang tak hanya Ebenhazer  Sitorus, kuasa hukum dr Fredy Setiawan yang naik darah mendengar putusan majelis hakim PN Semarang itu, namun  Kasie Pidum Kejari Semarang, Rinaldo P saat ditemui SR di kantornya menyebutkan bahwa pihaknya segera melakukan perlawanan hukum.

“Keputusan itu belum final, karena kami masih melakukan perlawanan dengan banding,”tegasnya.

Sayangnya, Kepala Pengadilan Negeri Semarang, Agus Subrroto SH teramat sulit untuk diminta konfirmasinya. Padahal penjelasan Agus Subrroto SH sangat dibutuhkan untuk menangkis adanya anggapan bahwa majelis hakim ‘ada main’ dalam kasus tersebut.

Makin lama kasus ini, kok rasanya semakin njelimet. Bahkan seperti masih berada di persimpangan jalan. Bayangkan saja, Humas PN Semarang, Sugeng yang seharusnya menjadi corong terdepan dalam memberikan penjelasan kepada masyarakat malah tidak tahu mengenai keputusan sela tersebut. “Kasus apa ya mas, saya kok belum tahu,”jelas Sugeng.    Syailendra/Julius

 
Leave a comment

Posted by on April 21, 2011 in LAPORAN UTAMA

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: